Mengenal Mata Pelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA)

Sumber: https://portal.komdigi.go.id/kanal-publik/berita-kini/9248

Beberapa waktu terakhir, masyarakat dihadapkan pada berbagai kasus penyalahgunaan teknologi kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI). Mulai dari video palsu yang menyerupai tokoh publik, penipuan menggunakan suara tiruan AI, hingga maraknya konten manipulatif yang sulit dibedakan dari kenyataan.

Di sisi lain, dunia pendidikan juga mulai menghadapi tantangan baru. Teknologi AI kini dapat digunakan untuk menjawab soal, membuat tulisan, menyusun presentasi, bahkan menyelesaikan tugas hanya dalam hitungan detik. Kemudahan ini tentu membawa manfaat, tetapi juga memunculkan kekhawatiran terhadap tumbuhnya budaya instan dan menurunnya proses berpikir kritis murid.

Sumber: https://www.kompasiana.com/fikhlasssm/676193c234777c648d615553/ketergantungan-pelajar-di-indonesia-terhadap-artificial-intelligence-ai

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa murid saat ini tidak cukup hanya diajarkan menggunakan teknologi. Mereka juga perlu dibimbing untuk memahami cara kerja teknologi, berpikir kritis terhadap informasi digital, serta menggunakan teknologi secara bijak dan bertanggung jawab.  

Dalam konteks itulah, pengenalan Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA) mulai dipandang penting dalam dunia pendidikan. KKA tidak hanya dimaknai sebagai kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga sebagai sarana untuk melatih cara berpikir logis, kreatif, sistematis, dan kritis sejak dini.

Sebagai bentuk respons terhadap perkembangan tersebut, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menyusun Naskah Akademik Pembelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial pada Februari 2025. Dari naskah akademik itulah kemudian lahir kebijakan mengenai mata pelajaran baru bernama Koding dan Kecerdasan Artifisial, atau disingkat KKA.

Sebagai salah satu upaya penguatan pemahaman mengenai KKA, BBPMP Provinsi Jawa Tengah menyusun seri artikel sosialisasi terkait pembelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial di satuan pendidikan. Artikel ini merupakan bagian pertama dari seri sosialisasi tersebut.


Apa Itu KKA?

KKA adalah mata pelajaran pilihan yang dirancang untuk membekali murid dengan berbagai kemampuan penting di era digital, antara lain:

  • kemampuan berpikir komputasional, yaitu kemampuan memecah masalah besar menjadi bagian-bagian kecil, mengenali pola, dan menyusun langkah logis;
  • literasi digital dan etika AI, yaitu pemahaman tentang kecerdasan artifisial, dampaknya, serta tanggung jawab dalam menggunakannya secara bijak;
  • serta dasar-dasar pemrograman, mulai dari aktivitas sederhana tanpa komputer hingga penggunaan teknologi digital secara bertahap.

KKA bukan semata-mata tentang belajar membuat program komputer yang rumit. Murid diajak memahami bagaimana teknologi bekerja, bagaimana informasi diproses, serta bagaimana menggunakan teknologi secara bertanggung jawab. Tujuan utamanya adalah melatih cara berpikir yang sistematis, logis, kreatif, dan etis, yaitu keterampilan yang dibutuhkan di era digital.

Koding dapat dikenalkan melalui aktivitas sederhana yang melatih kemampuan menyusun langkah, mengenali pola, memecahkan masalah, dan berpikir terstruktur. Kemampuan ini penting bukan hanya untuk dunia teknologi, tetapi juga untuk kehidupan sehari-hari. Murid belajar bahwa setiap masalah dapat dianalisis dan diselesaikan secara bertahap.

Sementara itu, pengenalan kecerdasan artifisial membantu murid memahami bahwa AI bukanlah teknologi yang selalu benar. Hasil yang diberikan AI tetap perlu diperiksa, dipahami, dan digunakan secara bijak. Murid juga perlu dibangun kesadarannya mengenai etika digital, keamanan data pribadi, serta dampak sosial dari penggunaan teknologi.

Sekolah memiliki posisi strategis dalam membangun pemahaman tersebut. Ketika murid sudah akrab dengan teknologi AI dalam kehidupan sehari-hari, sekolah tidak dapat hanya menjadi penonton perkembangan teknologi. Sekolah perlu hadir untuk memberikan arah, pendampingan, dan penguatan karakter agar teknologi digunakan secara cerdas, aman, dan bertanggung jawab. Tanpa pendampingan yang tepat, penggunaan teknologi berisiko membentuk budaya instan, ketergantungan, serta menurunkan kemampuan murid dalam berpikir kritis dan menyelesaikan masalah secara mandiri.

Pengenalan KKA juga tidak harus dipahami sebagai pembelajaran yang selalu membutuhkan perangkat canggih. Pada jenjang dasar, pengenalan dapat dilakukan melalui permainan logika, penyusunan instruksi sederhana, aktivitas pemecahan masalah, maupun projek kreatif yang sesuai dengan usia murid. Yang terpenting bukan sekadar penggunaan teknologinya, melainkan proses berpikir yang dibangun melalui pembelajaran tersebut.

Salah satu contoh aktivitas pemecahan masalah yang bisa dilakukan di dalam kelas

Pada akhirnya, tantangan pendidikan hari ini bukan lagi sekadar memastikan murid mampu menggunakan teknologi, tetapi memastikan mereka mampu menggunakan teknologi dengan cerdas, kritis, dan berkarakter. Di tengah perkembangan AI yang semakin cepat, sekolah memiliki peran penting untuk menyiapkan generasi yang tidak hanya siap menghadapi masa depan, tetapi juga mampu membentuk masa depan secara bijak dan bertanggung jawab.


Jadwal Sosialisasi Fase Berikutnya:

| 2 | Status mata pelajaran KKA dan fleksibilitas implementasi

| 3 | Landasan hukum dan struktur kurikulum

| 4 | Linearitas guru (siapa yang dapat mengajar KKA)

| 5 | Metode pembelajaran KKA


Sumber Naskah Akademik KKA:

https://kurikulum.kemendikdasmen.go.id/file/1741766787_manage_file.pdf

Kemendikdasmen Prioritas