Salatiga – Pemerintah Kota Salatiga terus menunjukkan komitmennya dalam membangun generasi yang sehat, cerdas, dan berkarakter melalui inovasi pendidikan anak usia dini. Salah satu praktik baik yang menjadi perhatian adalah kegiatan Patlikuran, Dolanan Sareng Bunda PAUD yang mengusung tema “Generasi Sehat, Cerdas, Berbudaya melalui Makan Bergizi Gratis (MBG)”. Kegiatan ini dilaksanakan secara rutin setiap tanggal 24 sebagai bagian dari peringatan hari jadi Kota Salatiga.
Bertempat di Rumah Dinas Wali Kota Salatiga, kegiatan ini melibatkan sekitar 80 anak TK perwakilan dari seluruh wilayah Kota Salatiga, bersama Ikatan Guru Taman Kanak-Kanak Indonesia (IGTKI), Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, dan berbagai perangkat daerah terkait. Peserta dipilih secara bergiliran mewakili empat kecamatan sehingga manfaat program dapat dirasakan secara merata.
Salah satu keunikan program ini adalah penggabungan penguatan karakter melalui dua aktivitas utama, yakni makan bergizi bersama dan permainan tradisional. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dimanfaatkan sebagai wahana pembentukan kebiasaan positif, seperti disiplin, tanggung jawab, hidup bersih dan sehat, serta penghargaan terhadap makanan. Di sisi lain, berbagai permainan tradisional yang diperkenalkan kepada anak-anak menjadi sarana efektif untuk menumbuhkan nilai kejujuran, kerja sama, sportivitas, dan kepemimpinan. Pendekatan ini menunjukkan bahwa penguatan karakter dapat dilakukan melalui berbagai pengalaman belajar yang dekat dengan kehidupan anak sehari-hari.
Berbagai permainan tradisional diperkenalkan dalam kegiatan ini, seperti engklek, gangsing, setinan (kelereng), dan gobak sodor. Setiap permainan dirancang untuk menumbuhkan nilai-nilai karakter positif. Engklek melatih kejujuran, disiplin, dan kemandirian; gangsing mengembangkan kesabaran, fokus, dan kerja sama; setinan menanamkan sportivitas dan kemampuan mengambil keputusan; sedangkan gobak sodor memperkuat kerja sama tim, tanggung jawab, dan kepemimpinan.
Selain melalui permainan, penguatan karakter juga dilakukan saat pelaksanaan makan bersama yang dikemas sebagai laboratorium karakter. Anak-anak dibiasakan menerapkan adab makan, seperti antre dengan tertib, mencuci tangan menggunakan sabun, berdoa sebelum makan, makan sambil duduk, serta menggunakan tangan kanan. Mereka juga diajak membangun sikap guyub melalui kegiatan makan bersama tanpa membedakan latar belakang sosial, sekaligus belajar bertanggung jawab melalui gerakan zero waste dan operasi semut dengan membersihkan area makan secara mandiri setelah kegiatan selesai.
Aspek edukasi gizi juga menjadi bagian penting dalam kegiatan ini. Dinas Kesehatan memberikan pengenalan mengenai konsep gizi seimbang melalui pendekatan yang mudah dipahami anak-anak, seperti mengenal warna makanan sebagai “pasukan pelindung tubuh”, memahami konsep Isi Piringku, serta mengenal berbagai sumber pangan lokal sebagai bentuk rasa syukur terhadap hasil bumi yang tersedia di lingkungan sekitar.
Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Jawa Tengah memandang praktik baik yang dilaksanakan Pemerintah Kota Salatiga ini sebagai salah satu contoh implementasi pendidikan holistik yang mengintegrasikan penguatan karakter, kesehatan, budaya, dan pembelajaran kontekstual pada anak usia dini. Pendekatan tersebut sejalan dengan upaya peningkatan mutu pendidikan yang menempatkan peserta didik sebagai pusat pembelajaran sekaligus mendorong penguatan karakter sebagai fondasi pembentukan generasi Pancasila.
Melalui peran pendampingan, fasilitasi, dan diseminasi praktik baik, BBPMP Jawa Tengah terus mendorong pemerintah daerah dan satuan pendidikan untuk menghadirkan inovasi layanan pendidikan yang berkualitas, relevan dengan kebutuhan peserta didik, serta mampu memperkuat kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat.
Kegiatan Patlikuran menjadi bukti bahwa pendidikan karakter dapat dibangun melalui pengalaman yang sederhana, menyenangkan, dan dekat dengan kehidupan anak. Dengan menggabungkan permainan tradisional, edukasi gizi, dan pembiasaan perilaku positif, Kota Salatiga telah menghadirkan model pembelajaran yang tidak hanya menumbuhkan generasi sehat dan cerdas, tetapi juga generasi yang berbudaya dan berkarakter kuat. (Tri Mulyani).









