Penilaian Pembelajaran Mendalam dengan Taksonomi SOLO, Sebuah Contoh

Penilaian Pembelajaran Mendalam dengan Taksonomi SOLO, Sebuah Contoh


Oleh SW Widodo Widyaprada BBPMP Jawa Tengah


Selamat siang Bapak dan Ibu, salam sehat untuk semua.

Pada artikel ini dan artikel berikutnya Saya akan memberikan contoh Pembelajaran Mendalam dengan Taksonomi SOLO dari beberapa mata pelajaran. Artikel ini Saya kembangkan dari buku John Biggs.


Mengambil Nilai dari Suatu Peristiwa Sejarah: Peristiwa Rengasdengklok

Pada tanggal 16 Agustus 1945 di pagi buta sekitar pukul 03.00 WIB sekelompok pemuda dengan tokoh kunci Sukarni, Wikana dan Chaerul Saleh menculik Soekarno – Hatta dan dibawa ke sebuah rumah di Rengasdengklok, Karawang Jawa Barat. Soekarno – Hatta dibawa ke tempat itu dengan alasan wilayah tersebut steril dari pengaruh Jepang yang sudah kalah oleh sekutu. Para penculik mendesak agar Soekarno – Hatta segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia tanpa persetujuan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang dibentuk Jepang. Sore harinya salah seorang tokoh dari golongan tua bernama Ahmad Subardjo menjemput Soekarno – Hatta dengan menjamin keselamatan keduanya dan kemerdekaan akan diproklamasikan paling lambat 17 Agustus 1945. Peran Ahmad Subardjo sebagai penengah ini sangat penting mengingat golongan tua dan golongan muda sempat bersitegang sebelum dicapai kesepakatan mengembalikan Soekarno – Hatta ke Jakarta. (Dirangkum dari berbagai sumber).

Pertanyaan: Apakah peristiwa penculikan di atas termasuk kejahatan?

Prastruktural

“Saya tidak setuju peristiwa penculikan di  di atas dianggap kejahatan.”

“Saya setuju peristiwa penculikan tersebut dianggap kejahatan, karena tidak menghormati tokoh besar Soekarno – Hatta. Semua penculikan adalah kejahatan”

Siswa pertama menyatakan setuju tanpa alasan, siswa kedua menyatakan tidak setuju dengan alasan yang bersifat emosional bukan rasional.

Unistruktural

“Saya tidak setuju peristiwa Rengasdengklok dianggap sebagai kejahatan. Niat dari penculikan itu adalah untuk kebaikan bangsa Indonesia secara keseluruhan.”

“Saya tidak setuju peristiwa Rengasdengklok dianggap sebagai kejahatan. Langkah itu bersifat darurat demi kemerdekaan Indonesia.”

Pada jawaban di atas setiap siswa memberikan alasan dengan satu sudut pandang yang logis dan bersifat umum.

Multistruktural

“Saya tidak setuju peristiwa Rengasdengklok dianggap sebagai kejahatan. Niat dari penculikan itu adalah agar Soekarno – Hatta bebas dari pengaruh Jepang.”

“Saya tidak setuju peristiwa Rengasdengklok dianggap sebagai kejahatan. Langkah itu bersifat darurat agar Soekarno – Hatta sesegera mungkin memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.”

Pada jawaban di atas setiap siswa memberikan alasan dengan satu sudut pandang yang logis berdasarkan fakta yang terdapat dalam teks.

Relasional

“Saya tidak setuju peristiwa Rengasdengklok dianggap sebagai kejahatan. Niat dari penculikan itu adalah agar Soekarno – Hatta bebas dari pengaruh Jepang. Seandainya pertemuan dengan para tokoh muda tersebut tetap dilaksanakan di Jakarta pengaruh Jepang melalui PPKI dan para tokoh tua akan sangat menekan Soekarno – Hatta untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia di waktu yang ditentukan Jepang.”

Pada jawaban di atas siswa memberikan alasan dari dua sudut pandang berbeda berdasarkan fakta yang terdapat dalam teks. Tapi siswa tersebut belum berani memperluas gagasannya dari fakta yang ada dalam teks, berbeda dengan pemahaman mendalam yang  ditunjukkan oleh siswa berikut ini.

Abstak Diperluas

“Saya tidak setuju dengan istilah penculikan pada peristiwa Rengasdengklok. Penculikan berarti niat jahat, demi keuntungan pribadi penculiknya. Penculikan juga disertai ancaman yang seringkali menggunakan senjata. Sedangkan pada peristiwa Rengasdengklok tidak ada niat jahat maupun ancaman dan penggunaan senjata. Peristiwa tersebut murni bertujuan untuk membebaskan Soekarno – Hatta dari pengaruh Jepang demi proklamasi kemerdekaan Indonesia secepatnya. Menurut Saya lebih baik digunakan istilah mendesak Soekarno – Hatta untuk ikut ke Rengasdengklok.”

Muncul pertanyaan: sesulit itukah membuat kunci jawaban Taksonomi SOLO? Tentu tidak. Anda cukup memcermati jawaban setiap siswa, lalu:
beri skor 2 jika jawaban terlalu singkat seperti ya atau tidak, atau dengan hanya satu argumen yang tidak valid sesuai teks; beri skor 4 jika jawaban disertai satu fakta/argumen yang logis namun bersifat umum, tidak terkait teks; beri skor 6 jika jawaban disertai satu fakta/argumen sesuai teks; beri skor 8 jika jawaban disertai dua fakta/argument yang logis sesuai teks; dan beri skor 10 jika jawaban disertai dua fakta/argumen yang dielaborasikan dengan refleksinya sesuai nilai-nilai universal yang tertanam dalam dirinya.

Pada soal di atas tergambarkan dengan jelas keterkaitan muatan Literasi dengan soal Taksonomi SOLO di atas, bukankah pertanyaan Reflektif merupakan level tertinggi muatan Literasi?


Referensi

Biggs, John B.; Collis, Kevin F. (1982). Evaluating The Quality of Learning:SOLO Taxonomi (Structure of the Observed Learning Outcome) . Seri psikologi pendidikan. New York:  Academic Press . ISBN 0120975505OCLC

Fullan, M., Quinn, J., & McEachen, J. (2018). Deep learning: Engage the world change the world. Joint Publication Corwin and Ontario Principal Council. ISBN 9781506368580

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. (20250. Naskah Akademik Pembelajaran Mendalam: Menuju Pendidikan Bermutu. Pusat Kurikulum dan Pembelajaran, BSKAP Kemendikdasmen. Kemdikdasmen. (2025, 13 Februari). Kuliah Umum: Pendekatan Pembelajaran Mendalam dalam Transformasi Pendidikan (Live – Kuliah Tamu Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed. – Menteri Pendidikan Dasar Dan Menengah) [Video]. YouTube.  [Video]. YouTube. https://youtu.be/EflpZj3zA1g?si=a_GvOHKzU-SFNZey

Kemendikdasmen Prioritas