Kudus, 3 September 2026 – Penguatan kompetensi guru menjadi salah satu kunci dalam menghadirkan pembelajaran Sains, Teknologi, Enjinering, dan Matematika (STEM) yang relevan, kreatif, dan dekat dengan kehidupan peserta didik. Melalui Program STEM Nasional, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mendorong penerapan pembelajaran STEM yang dapat dilakukan secara sederhana melalui pemanfaatan berbagai hal yang ada di lingkungan sekitar.
Peluncuran Program STEM Nasional di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Kamis (3/9), menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas pendidik sekaligus membangun kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, satuan pendidikan, dan berbagai mitra pembangunan.
Kepala Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Provinsi Jawa Tengah, Dr. Nugraheni Triastuti, S.E., M.Si., turut hadir dalam kegiatan tersebut sebagai bagian dari dukungan terhadap penguatan mutu pembelajaran dan kompetensi pendidik di Jawa Tengah.
Pembelajaran STEM diarahkan untuk menumbuhkan kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan inovatif peserta didik melalui pemecahan persoalan nyata. Pendekatan tersebut diperkuat dengan prinsip 5M, yaitu Mudah, Murah, Menggembirakan, Mindful, dan Meaningful, sehingga STEM diharapkan dapat diterapkan oleh guru tanpa harus bergantung pada fasilitas yang rumit maupun mahal.
Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK) Kemendikdasmen, Nunuk Suryani, mengatakan penguatan STEM merupakan bagian dari komitmen pemerintah dalam meningkatkan kompetensi guru dan kualitas pembelajaran.
Salah satu upaya yang dilakukan adalah membangun kapasitas fasilitator yang selanjutnya dapat melakukan pengimbasan kepada guru di daerah. Saat ini, Kemendikdasmen telah membentuk 155 Fasilitator Nasional melalui pelatihan yang dilaksanakan bersama sejumlah mitra, antara lain Monash University, SEAQIS, dan Korea National University of Education.
Program penguatan kompetensi tersebut mencakup pelatihan teknis, micro-credential, serta lokakarya lintas jenjang. Melalui mekanisme pengimbasan, program ini menargetkan 3.272 guru untuk mendapatkan penguatan kompetensi penerapan STEM.
“Dengan implementasi terarah, pembelajaran STEM dengan prinsip 5M yang erat dengan kearifan lokal diharapkan dapat menjadi pengungkit mutu pembelajaran sekaligus mempersiapkan Generasi Emas bagi terwujudnya Indonesia Emas 2045,” ujar Nunuk.
Menurutnya, keberhasilan Program STEM Nasional membutuhkan dukungan seluruh ekosistem pendidikan. Pemerintah daerah, dinas pendidikan, satuan pendidikan, guru, komunitas belajar, serta mitra pembangunan memiliki peran penting agar penerapan STEM tidak berhenti pada pelatihan, tetapi berlanjut menjadi praktik pembelajaran di ruang-ruang kelas.
“Sebagai wujud partisipasi semesta, dukungan Bupati Kudus beserta seluruh jajaran pemerintahan, para kepala dinas pendidikan, dan tentunya seluruh mitra pembangunan, termasuk Pusat Belajar Guru menjadi kunci Program STEM ini dapat berjalan dan memberikan dampak nyata bagi pendidikan Indonesia,” tutur Nunuk.
Dorong Pembelajaran dari Lingkungan Sekitar
Penerapan STEM tidak harus dimulai dengan perangkat dan fasilitas yang kompleks. Guru dapat mengembangkan pembelajaran berdasarkan persoalan yang ditemui peserta didik dalam kehidupan sehari-hari dan mengaitkannya dengan konsep sains, teknologi, enjinering, dan matematika.
Pendekatan ini sekaligus mendorong perubahan pembelajaran dari sekadar menghafal rumus menjadi proses memahami masalah, mencari solusi, mencoba, dan menciptakan sesuatu yang bermakna.
Dengan prinsip 5M, STEM dapat diterapkan secara sederhana dan kontekstual sesuai karakteristik lingkungan masing-masing satuan pendidikan. Kearifan dan potensi lokal pun dapat menjadi sumber belajar untuk mengembangkan kreativitas peserta didik.
Semangat tersebut terangkum dalam slogan Program STEM Nasional, “Berani Mencoba, Kreatif Mencipta.”
Dukungan terhadap program juga disampaikan Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga Kabupaten Kudus, Anggun Nugroho. Ia mengapresiasi peluncuran Program STEM Nasional dan menyatakan kesiapan pemerintah daerah untuk mengimplementasikannya secara bertahap.
“Kami akan mengimplementasikan program ini secara bertahap di semua jenjang. Mungkin akan ada piloting satu atau dua sekolah terlebih dahulu sebelum pelaksanaan secara menyeluruh di Kudus. Kami juga siap berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk memberikan bekal kepada anak-anak kita untuk menerapkan STEM,” ujar Anggun.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Jepara, Adi Hananto, berharap Program STEM Nasional dapat diterapkan secara lebih luas di daerahnya. Dukungan akan dilakukan antara lain melalui komunitas belajar guru agar praktik pembelajaran STEM dapat diimbaskan kepada lebih banyak pendidik.
“Kami akan mendukung program ini melalui komunitas belajar (kombel) guru. Harapannya, mereka dapat mengimbaskan STEM ini kepada semua guru yang ada di Kabupaten Jepara,” ujar Adi.
Antusiasme juga datang dari para pendidik yang mengikuti kegiatan. Fitri Anggraeni, guru RA Miftahul Falah Dawe, mengajak para guru untuk terus belajar, meningkatkan kompetensi, dan saling berbagi pengalaman dalam mengembangkan pembelajaran.
Senada dengan itu, Annisa, guru TKIT Umar bin Khatab, berharap Program STEM Nasional dapat mendorong guru menciptakan pembelajaran yang semakin kreatif sehingga kemampuan berpikir kritis peserta didik dapat mulai dikembangkan sejak usia dini.
Penguatan STEM menjadi bagian dari upaya menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada penguasaan pengetahuan, tetapi juga kemampuan peserta didik dalam berpikir, memecahkan masalah, berkolaborasi, dan menghasilkan karya. Melalui sinergi seluruh ekosistem pendidikan, penerapan STEM diharapkan semakin luas dan mampu memberikan dampak nyata terhadap peningkatan mutu pembelajaran di Jawa Tengah dan Indonesia. (pim)












