Semarang, 28 April 2026, – Dalam rangka mendukung pencapaian Asta Cita Ke-4 yang tetapkan Presiden, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menetapkan setidaknya ada delapan program prioritas yang akan dilaksanakan pada periode 2025-2029. Salah satu program prioritas tersebut adalah Penguatan Pendidikan Karakter Melalui 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7 KAIH), mulai dari bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat/bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, dan tidur cepat. Seluruh sekolah diharapkan mengimplementasikan program tersebut untuk semua murid di satuan pendidikannya.
Salah satu sekolah yang telah menerapkan program 7 KAIH dengan sangat baik dan berdampak nyata adalah adalah SD Negeri 4 Wanarata, Kecamatan Bantarbolang Kabupaten Pemalang. Sekolah pinggiran yang berada jauh dari ibu kota kabupaten dengan jarak tempuh 25 Km dari kota Pemalang. Sekolah yang dipimpin oleh Ibu Vanny Rifqoh, S.Pd.SD tersebut telah berhasil menerapkan 7 KAIH dengan sangat baik ke anak didiknya. Keberhasilan tersebut terlihat jelas dari meningkatkan kepercayaan warga sekitar untuk menyekolahkan anaknya di sekolah tersebut. “SDN 4 Wanarata ini mengalami peningkatan jumlah murid yang sangat pesat, dari sebelumnya hanya 90 murid meningkat menjadi 120 murid, ini adalah dampak nyata dari keberhasilan penerapan 7 KAIH di sekolah kami”, ujar Vanny.
Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa SDN 4 Wanarata menerapkan jam 0 (Nol) sekitar 15 menit mulai pukul 7.00-7.15, yaitu aktifitas yang dilakukan siswa sebelum proses pembelajaran dimulai. Beberapa aktifitas pembiasaan yang dilakukan pada jam nol tersebut antara lain: 1) Senin, melakukan upacara bendera; 2) Selasa, melaksanakan senam KAIH; 3) pembacaan Juz Amma, sholawat, dan Asmaul Husna; 4) Kamis, menyanyikan lagu-lagu wajib, dan daerah; 5) Juz Amma, sholawat, dan Asmaul Husna dan dilanjutkan sarapan bersama dengan bekal sendiri; 6) Sabtu, Senam dan dilanjutkan kegiatan Sikap Sadar Lingkungan (SiDarLing).




Praktek nyata pembiasaan beribadah misalnya dengan melakukan sholat dhuhur berjamaah bagi murid kelas tinggi yaitu kelas 4-6 di masjid terdekat sekitar sekolah. Dipilihnya masjid terdekat sebagai tempat juga pembiasaan juga bertujuan untuk membiasakan murid untuk bermasyarakat.
Untuk mempercepat penguatan karakter murid, SDN 4 Wanarata mengunakan SiDarLing. “SiDarLing adalah metode atau inovasi unggulan kami”, ujar Kepala SDN 4 Wanarata dengan penuh semangat. SiDarLing yaitu aktifitas yang dilakukan oleh murid untuk meningkatkan kesadaran akan lingkungan sekitar baik lingkungan sekolah maupun diluar sekolah meraka. Kegiatan SiDarLing adalah aktifitas bersih-bersih dan juga mempercantik lingkungan sekolah maupun luar sekolah, diikuti oleh semua murid dengan pendampingan guru. Pada kegiatan ini juga dipraktekkan bagaimana pengelolaan sampah yang baik dan benar. Kegiatan dilakukan setiap hari Sabtu, dengan diawali senam bersama.
Pada kesempatan tersebut, kepala SDN 4 Wanarata juga menjelaskan bahwa keberhasilan program 7 KAIH tidak terlepas dari keterlibatan, partisipasi, dan dukungan orang tua. “7 KAIH tidak akan berhasil tanpa dukungan orang tua/wali murid karena sebagian besar praktek pembiasaan tersebut dilakukan saat dirumah” ujar Beliau. “Sosialisasi kepada orang tua/wali murid kami lakukan melalui kegiatan parenting, dan mengajak orang tua/wali untuk ikut melakukan pemantauan pembiasaan anaknya melalui jurnal pembiasaan 7 KAIH. Bahkan Jurnal pembiasaan 7 KAIH tersebut di cetak secara mandiri oleh orang tua/ wali murid”, ujar Beliau kembali.
Meskipun pelaksanaan 7 KAIH berhasil memberikan dampak nyata bagi kemajuan sekolah, tapi bukan berarti dalam pelaksanaannya tidak jumpai permasalahan. Permasalahan yang banyak kami jumpai justru ada pada pemantauaan pembiasaan 7 KAIH dirumah. Banyak murid tidak hidup bersama orang tua sendiri, namun sebaliknya sebagian besar murid hidup bersama nenek-kakek mereka atau saudara orang tua karena kebanyakan orang tua murid merantau. Dengan keterbatasan nenek-kakek tersebut sangat menyulitkan dalam pelaksanaan pemantauan pembiasaan terutama dalam pengisian jurnalnya. Terkait dengan permasalahan tersebut, kepala sekolah mengantisipasikan dengan mengintensifkan peran guru dan mendorong murid bersangkutan untuk secara langsung mengisi jurnal dengan pemantauan langsung oleh guru. (IM)








