Belakangan ini, ketika mendengar istilah digitalisasi pembelajaran, yang langsung terbayang sering kali adalah bantuan perangkat: PID (Papan Interaktif Digital) berlayar besar, laptop, hard disk, akses platform Rumah Pendidikan, hingga kehadiran kecerdasan artifisial (AI). Mulai dari jenjang PAUD sampai SMA menerima berbagai perangkat tersebut.
Namun ada satu pertanyaan yang terus menggelitik saya: apakah pendekatan pembelajaran di sekolah benar-benar menjadi semakin mendalam dan bermakna, atau sekadar terlihat semakin modern?
Ide menulis ini muncul dari diskusi saat kegiatan bersama Pusdatin dengan para guru di Kabupaten Batang. Sebagai PIC Program Prioritas Digitalisasi Pembelajaran di BBPMP Jawa Tengah, saya merasa berada di posisi yang cukup unik. Di satu sisi, saya menjadi bagian dari penyampai kebijakan pendidikan, tapi di sisi lain saya harus berhadapan langsung dengan realitas ruang kelas: keterbatasan sarana, waktu, serta beragam curahan hati para guru.
Dari diskusi itulah saya belajar bahwa digitalisasi bisa menjadi jembatan menuju pembelajaran mendalam, tetapi juga bisa berubah menjadi jebakan betmen yang tampak keren di permukaan, namun tanpa disadari justru mengantar pendidikan ke arah yang keliru jika tidak dirancang secara sadar.
Pembelajaran Mendalam: Bukan Lebih Sulit, Tapi Lebih Bermakna
Pembelajaran mendalam bukan tentang membuat materi menjadi lebih rumit, apalagi menjejalkan konten sebanyak-banyaknya, tetapi pembelajaran mendalam adalah tentang bagaimana murid memahami, mengaitkan, merefleksikan, dan akhirnya mencipta.
Di titik inilah teknologi seharusnya hadir: bukan sebagai tujuan, melainkan sebagai penguat proses berpikir. Jika digitalisasi hanya membuat murid lebih cepat mengakses materi, tetapi tidak meninggalkan pemahaman yang membekas, maka yang terjadi sebenarnya hanyalah otomasi, bukan transformasi.
Jembatan Digitalisasi Menuju Pembelajaran Mendalam
Dalam diskusi bersama para guru, kami sepakat bahwa teknologi dapat menjadi jembatan menuju pembelajaran mendalam jika digunakan secara tepat dan sadar. Setidaknya ada empat ruang yang dapat diperkuat melalui digitalisasi pembelajaran:
1. Eksplorasi
Teknologi membuka ruang bagi murid untuk bereksperimen tanpa takut salah. Simulasi digital, eksperimen virtual, hingga pemanfaatan AI sebagai alat membandingkan ide memungkinkan murid mencoba, gagal, lalu mencoba kembali.
2. Kolaborasi
PID, dokumen bersama, dan diskusi daring memungkinkan murid membangun pemahaman secara kolektif. Belajar tidak lagi sekadar duduk berdampingan, tetapi benar-benar berpikir bersama.
3. Refleksi
Belajar tidak berhenti ketika tugas dikumpulkan. Melalui jurnal digital, portofolio, dan umpan balik berkelanjutan, murid dibantu untuk menyadari proses dan perkembangan belajarnya sendiri.
4. Kreasi
Produk belajar menjadi bukti bahwa murid benar-benar berpikir dan berproses. Video, poster digital, komik, podcast, hingga solusi sederhana untuk persoalan nyata menjadi media murid mengekspresikan pemahamannya.
Kekeliruan Umum dalam Digitalisasi Pembelajaran
Diskusi di lapangan juga menyingkap sejumlah kekeliruan yang kerap terjadi dalam praktik digitalisasi pembelajaran.
Penggunaan KA yang berlebihan.
KA dijadikan jalan pintas, bukan alat bantu berpikir. Murid—bahkan guru—berhenti memproses karena merasa semuanya sudah “selesai oleh KA”.
Kelas yang hanya menjadi sesi menonton video.
Video sejatinya adalah pemantik, bukan menu utama. Tanpa diskusi, eksplorasi, dan refleksi, kelas hanya berubah menjadi tontonan bersama.
Administrasi yang semakin menumpuk.
Alih-alih memudahkan, teknologi kadang justru menambah beban guru karena alur pembelajaran dan manajemen kelas tidak ikut disederhanakan.
Guru merasa harus jago teknologi terlebih dahulu.
Banyak guru menunda karena merasa belum menguasai berbagai aplikasi. Padahal yang dibutuhkan bukan keahlian teknis tingkat tinggi, melainkan keberanian untuk mulai merancang ulang pembelajaran.
Teknologi Mengikuti Pedagogi, Bukan Sebaliknya
Diskusi-diskusi tersebut mengerucut pada satu kesadaran penting: teknologi seharusnya mengikuti tujuan belajar, bukan mengatur cara mengajar. Guru tetap menjadi pusat pembelajaran dengan empati, kepekaan, dan desain belajar yang bermakna.
Digitalisasi yang baik bukanlah yang paling canggih, melainkan yang paling relevan. Bukan yang paling banyak aplikasinya, tetapi yang paling terasa dampaknya bagi murid.
Di titik inilah saya merasa perlu terus belajar. Belajar dari para guru, dari keterbatasan di lapangan, serta dari praktik-praktik kecil yang sering luput dari laporan formal, namun berdampak nyata bagi murid.
Transformasi digital pembelajaran tidak akan pernah berhasil jika hanya berhenti di dokumen kebijakan. Dampaknya baru benar-benar terasa ketika ia hadir di ruang kelas yang nyata, bertemu guru yang mau berproses, dan murid yang tumbuh sebagai pembelajar yang kritis dan manusiawi.
Pada akhirnya, digitalisasi pembelajaran perlu diukur bukan dari seberapa modern kelas terlihat, tetapi dari seberapa dalam ia membantu guru mengajar dengan lebih bermakna dan murid belajar dengan lebih manusiawi.
maspoet, Desember 2025


