
Cintaku bermula dari titik o km Setelahnya Tumbuh lah cintaku seiring berjalannya sang waktu Cintaku bersemi Sesenti demi Sesenti Seinchi demi seinchi Selalu ku ingat sampai kini Titik 0 km Terpendam terpaku dalam hatiku baca juga : puisi anggun Seperti paku berkarat Menancap pada batang Membekas Meninggalkan sisa karat Cintaku dimulai dari titik 0 km…
anak kecil itu berdandan dangan manisnya putri dia Melakukan persiapan menghadapi hari pertama nya hari masuk sekolah kelas satu sekolah dasar baju putih rok merah Kaos kaki putih sepatu hitam berikat pinggang hitam tak lupa berdasi Rapi baca juga : Puisi Sahabat ketika siap berangkat tak lupa cium tangan Umi dan abi sembari mengucap salam…
Kreta kutunggu Bukan hal tabu Dan tidak membosankan Bahkan menggairahkan Betapa tidak Disini Boleh duduk sambil menikmati hidangan Disini Muncul dari masa lalu Beragam kenangan Sore ini Kubaca tulisan seorang sahabat Dia tulis Betapa syukurnya atas Semua sahabat Jujur aku sependapat dengan mu tentang nilai ini Betapa Tersambungnya sahabat atas campur tangan Sang Maha Pencipta…
Oleh loedpri Ikhlas itu sederhana Nggak neko neko Sesederhana keris budho sempono Yaitu keris tanpa luk Ikhlas itu sederhana Cukup melepaskan semua tuhan kecuali satu Ikhlas itu sederhana Cukup melepaskan semua beban kecuali yang menjadi tanggung jawabmu Ikhlas itu sederhana Tapi Dahsyat hasilnya Bagi jiwa Bagi raga Bagi langit Bagi bumi
Jiwa jiwa gelisah Merona Meronta Menunggu sang fajar diufuk timur Jiwa jiwa Memberontak Pada ke tidak pastian Menangis pada sang Illahi Tunduk Tafakur Jiwa jiwa Meronta Bersujud pada sang Pencipta Mohon pengampunan Atas kekakuan hati Atas kedengkian hati Atas keserakahan jiwa Yang sewenang wenang Jiwa jiwa Menangis sedih Menangisi diri Atas ketidak mampuannya baca juga…
oleh : loedpri usia kita sudah memasuki senja sama sama capek bak bunga merah yang mulai surut semangatnya…. tak perlulah remuk redam untuk hal yang tak pasti… hematlah sang semangat tuk persiapan menuju padang perburuan nan abadi…. jelaga jelaga hitam diwajahku… biarlah menjadi penghias abadi… dari masa lalu yang akan menemanimu mengarungi padang perburuan…
lelah…resah… disinilah kita saat ini… menualah kita sama sama mendekati usia senja… dan kita pun kan tenggelam… Lalu…dilupakan semoga bekal kita cukup…mandalawangiku Sampai saat akhir nanti Dalam kebisuan ini Sama sama kita sadari… memang hanya lilin yang kita punya…. akan tetapi… Dapat kita rasakan bersama bagaimana sang api membakar sumbu lilin itu…. Pelan tapi pasti….…
Karya : Loedpri Mandalawangiku… Setiap kulihat dirimu terlelap… Tak terasa memanas pelupuk mataku… Masih segar dalam ingatanku Betapa 15 tahun yang lalu dirimu adalah pribadi yang tomboy Sehingga…. Memakai rok pun serasa janggal Ingatkah dirimu ketika kutanyakan padamu….. Bu…pasti suka memakai celana jeans ya… Apa jawabmu waktu itu…. Ah…disimpan saja ya jawabannya Itu akan menjadi…
Karya : Rini Nofita Sari Di hari yang nampak sendu doa-doaku seperti buih di lautan Berlayar memerangi hawa dingin nan panas Singgah di bibir pantai pasir putih nan hitam Di ujung mata terdapat gambar kibaran merah putih Tubuhku berdiri menatap Sang Pusaka Indonesia Bumi nusantaraku adalah jiwaku Sungguh, Aliran sungai adalah aliran darahku…
Karya : Mutiara Hasnatul Jannah Berjalan aku ke timur Ke tanah sinar matahari mulai menjamur Kusaksikan wajah-wajah manusia yang berkarat Para pelajar memenggal kaki-kaki mereka Perempuan-perempuan hidup kekeringan Dan laki-laki yang tenggelam pada tambang logam Berjalan aku ke barat Di kota-kota penuh keringat Di belakang gedung-gedung, jalan-jalan, dan menara Ada tubuh berjejal dalam kotak…