

By: Dr. MRT (Dr. Mampuono R. Tomoredjo, S. Pd., S. Pd., M. Kom.) Hari sudah menjelang zuhur. Matahari menggantung di langit, seolah enggan beranjak, menyiramkan cahayanya yang berkilauan di halaman SD Gebangsari yang lengang. Tiada terdengar tawa ataupun sorak-sorai, hanya sunyi yang menyelinap di setiap sudut. Semua kelas tengah tenggelam dalam pelajaran, dijaga oleh guru-guru…

By: Dr. MRT (Dr. Mampuono R. Tomoredjo, S. Pd., S. Pd., M. Kom.) Langit cerah di tahun 2006 menjadi saksi bisu saat mimpi itu mulai tumbuh dalam benakku—mimpi tentang sebuah rumah. Tidak sekadar rumah, melainkan tempat berlindung yang penuh kehangatan, tempat di mana cinta keluarga akan abadi seperti bara yang tak pernah padam. Saat itu,…

Oleh : Dr. MRT (Dr. Mampuono R. Tomoredjo, S.Pd., S.Pd., M.Kom.) Hujan telah lama pergi, meninggalkan tanah di kebunku dengan retakan-retakan halus, seolah bumi menguap, menghela napas panjang setelah sekian lama basah. Di tengah kekeringan yang pelan-pelan menggerogoti kebun dan ladang, blumbang di Dadah Wetan masih menyimpan sisa-sisa kehidupan. Dadah Wetan itu hutan bambu yang…

By: Dr. MRT (Dr. Mampuono R. Tomoredjo, S. Pd., S. Pd., M. Kom.) Hari itu masih pagi. Matahari baru saja bangkit dari tidurnya yang lelap, memandikan kampung Widuri dengan cahaya keemasan. Jam menunjukkan pukul 7:30 ketika aku dan teman-temanku, anak-anak kampung Widuri, berangkat bersama-sama menuju SD Gebangsari. Tahun itu adalah tahun 1978, dan kami baru…

By: Dr. MRT (Dr. Mampuono R. Tomoredjo, S. Pd., S. Pd., M. Kom.) Di kota kecil bernama Widuri, angin lembut dari pesisir selalu membawa ketenangan, mengalir di antara pepohonan dan bangunan-bangunan tua yang berdiri tenang. Di tengah hiruk-pikuk keseharian, berdirilah sebuah bangunan sederhana yang menyimpan banyak harapan: PKBM “Mampu Merdeka.” Tempat ini bukan sekadar…

By: Dr. MRT (Dr. Mampuono R. Tomoredjo, S. Pd., S. Pd., M. Kom.) Pernikahan kami baru saja menginjak satu tahun. Masih terasa segar dan penuh kebahagiaan. Setiap pagi, matahari terbit seolah menyinari hubungan kami dengan hangatnya. Tak ada yang kurang, kecuali satu hal yang mulai dibicarakan orang di luar sana—anak. Tahun pertama berlalu, kami masih…

Tirta Nursari Sungguh, mereka tak sedang bersamaku Bahkan kedua tanganku takkan mungkin menjangkaunya Meski hatiku berkata betapa ingin aku merengkuhnya bentang jarak ribuan kilo memisahkanku dengan mereka Namun aku mendengar lolong itu begitu nyata Namun aku melihat mata itu begitu sempurna Namun, maafkan aku, saat kutersadar diri, betapa papa diriku Palestina Bumimu membanjir darah…

Oleh : Tirta Nursari Tak ada camar di siang itu hanya sekelompok pipit menari Bersama awan dan matahari sembunyi Rinai membasah di bumi nusantara Negeri di mana kuhirup beribu liter udara bersama lantunan doa Hamparan sawah menghijau lagi Sunyiku hilang bersama gerimis dan riang pipit kecil bernyanyi Burung-burung terbang menyusur langit meski belantara hijau telah…

By: Dr. MRT (Dr. Mampuono R. Tomoredjo) (Ditulis dengan Strategi Tali Bambuapus Giri) Dalam perjalanan hidup, persahabatan sejati sering kali bisa diibaratkan sebagai hubungan mata dan tangan yang saling mendukung. Saat mata menangis, tangan dengan lembut mengusap air mata. Ketika tangan terluka, mata menitikkan air mata, bersama merasakannya, tak terpisah dari rasa sakit. Persahabatan yang…

Oleh : Tirta Nursari pagi ini ingin kurangkai sebaris kata, padamu yang tak jua kuhilang rasa, dan tak jua lelah diri ini menaruh asa kau yang di sana padamu sepucuk doa kusemat, lewat sepertiga malam, hingga kujelang subuh, lalu mentari pagi menghangatkannya, lantas menyapa senja, ; detak waktu terus menggulir saja sepotong doa, bismillah saja…