SALATIGA — Prestasi membanggakan kembali diraih peserta didik Kota Salatiga. Benedictus Gerardo Tristan Arjuna, siswa SD Bethany Salatiga, berhasil meraih Juara 3 Olimpiade Sains Nasional (OSN) SD Cabang IPA tingkat nasional. Prestasi ini menjadi bukti bahwa semangat belajar, disiplin positif, dan pembelajaran yang bermakna dapat mengantarkan peserta didik mencapai prestasi terbaik.
Dalam bincang santai bersama wali wilayah BBPMP Jawa Tengah untuk Kota Salatiga, Tri Mulyani, Benedictus membagikan cerita sederhana tentang kebiasaan belajarnya sehari-hari. Siswa kelas 5 SD tersebut mengaku tetap memiliki waktu bermain, namun ia belajar mengatur waktu dengan baik antara belajar dan aktivitas lainnya.
“Saya tetap bermain, tapi ada waktunya. Kalau sudah jadwal belajar, saya belajar dulu. Setelah itu baru bermain,” ujar Benedictus.
Kebiasaan tersebut menjadi bagian dari kemampuan meregulasi diri dalam belajar. Benedictus belajar bukan karena takut dimarahi, tetapi karena memiliki motivasi dari dalam dirinya sendiri untuk terus berkembang. Ia juga mengaku lebih mudah memahami pelajaran IPA ketika dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari.
“Saya suka IPA karena dipakai di kehidupan sehari-hari. Misalnya tentang tumbuhan, energi, atau air. Jadi belajar terasa lebih seru,” katanya.
Menurut Tri Mulyani, pengalaman belajar seperti yang dialami Benedictus menunjukkan pentingnya pembelajaran kontekstual di sekolah. Pembelajaran kontekstual membantu peserta didik memahami materi melalui pengalaman nyata yang dekat dengan kehidupan mereka sehingga belajar terasa lebih bermakna dan menyenangkan.
“Anak-anak akan lebih mudah memahami konsep ketika belajar dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari. Dari situ muncul rasa ingin tahu, motivasi intrinsik, dan semangat belajar yang tumbuh alami,” jelas Tri Mulyani.
Ia menambahkan bahwa keberhasilan Benedictus juga menunjukkan penerapan disiplin positif dalam pendidikan. Anak diberi kesempatan untuk bertanggung jawab terhadap proses belajarnya sendiri, sekaligus tetap memiliki ruang bermain dan berkembang sesuai tahap usianya.
Prestasi Benedictus menjadi inspirasi bahwa pendidikan bermutu tidak hanya berfokus pada hasil akhir, tetapi juga pada proses belajar yang membangun karakter, kemandirian, dan kemampuan berpikir kontekstual. Dengan dukungan guru, orang tua, dan lingkungan belajar yang positif, anak-anak dapat tumbuh menjadi pembelajar sepanjang hayat yang berprestasi dan bahagia. (Tri Mulyani)








