Situasi Pembelajaran Terbuka dan tertutup

Pendampingan Penguatan Penilaian Pembelajaran Mendalam SMPN 6 Rembang tanggal 3 Juli 2026

SITUASI PEMBELAJARAN TERBUKA DAN TERTUTUP


Selamat Siang Bapak dan Ibu, Salam Sehat untuk semua.

Pada pendampingan sebelumnya Kita bahas penilaian terhadap Transfer of Knowledge yang bersifat kuantitatif dan Transformation of Knowledge (Deep Learning) yang bersifat kualitatif.

Kali ini Kita akan membahas dasar John Bigg dalam mengembangkan Taksonomi SOLO dengan membedakan situasi pembelajaran yang “Open” dan “Closed”. Kita harus pahami bahwa buku Taksonomi SOLO terbit 1982 sedangkan Buku Deep Learning terbit 2018.

Sebagaimana telah Kita fahami dalam tulisan sebelumnya, bahwa Pembelajaran Mendalam didasarkan atas Teori Konstruktivisme (https://youtu.be/EflpZj3zA1g?si=a_GvOHKzU-SFNZey).  Piaget mengembangkan Cognitive Constructivism, pada tahun 1978, Lev Vygotsky mengembangkan Social Constructivism dan pada rentang tahun 1960 – 1990 Jerome Bruner mengembangkan Discovery Learning. Perkembangan ini sangat penting dan mendasari pemikiran John Bigg yang membedakan situasi Pembelajaran yang ”Open” dan “Closed” pada tahun 1982. Sedangkan Pembelajaran Mendalam itu sendiri mulai menjadi Gerakan Global di tahun 2014 yang dipelopori Michael Fullan seorang tokoh Pendidikan yang kemudian menjadi Professor Emeritus di University of Toronto. Kalau Kita paralelkan Pembelajaran yang “Closed” adalah “Surfaced” sedangkan yang “Open” adalah “Deep”.

Situasi terbuka cenderung membiarkan tujuan yang diinginkan tidak ditentukan secara khusus; mengandalkan keterlibatan tinggi siswa dengan guru yang memberikan tingkat struktur rendah, menggunakan metode pengajaran penemuan dan metode evaluasi informal. Tujuan pendidikan umum di sini lebih berorientasi pada “proses” daripada “konten”; artinya, pengalaman pendidikan dimaksudkan untuk memengaruhi siswa daripada hanya membuatnya belajar materi pelajaran. Tidak selalu mungkin untuk menentukan efek ini di awal atau mengevaluasinya. Paling tidak, seseorang mungkin merasa kecewa karena efek tersebut tidak dapat diukur; atau paling buruk, seseorang mungkin justru menghambat proses yang sedang dicoba. (Ausubel dalam Bigg,1982:8). Contohnya adalah melakukan praktek pengukuran suhu rata-rata di kecamatan Rembang pada bulan Juni. Atau membuat interpretasi puisinya Bung Karno “Aku Melihat Indonesia”. Atau mengarang dengan tema “Lomba-Lomba Memperingati Hari Kemerdekaan RI di Desaku”, membuat model lempeng tektonik.

Di situasi tertutup, sebaliknya, seseorang lebih tertarik untuk tidak menilai strategi yang digunakan oleh siswa, atau dalam reaksi afektifnya, tetapi lebih pada seberapa banyak dan seberapa baik konten tertentu yang ditentukan sudah diasimilasi. Disepakati secara universal bahwa siswa di mata pelajaran tertentu harus mempelajari materi umum tertentu dan memiliki keterampilan khusus. Misalnya, siswa yang lulus dari sekolah menengah seharusnya memiliki standar literasi dan kemampuan matematika tertentu, seharusnya mengetahui sesuatu tentang sejarah dan geografi negaranya sendiri maupun negara lain, seharusnya tahu dan memahami dasar-dasar mata pelajaran apa pun yang ingin mereka pelajari lebih lanjut, dan seterusnya. Materi itu sudah ada “di luar sana.” Masalahnya adalah bagaimana siswa mempelajarinya dan dapat menerapkannya. Apa yang terjadi pada mereka selama proses itu tentu penting, tetapi bukan menjadi perhatian utama. Fokusnya, dengan kata lain, adalah pada konten, dan metode pembelajarannya adalah penerimaan daripada pembelajaran penemuan (Ausubel dalam Bigg,1982:8).

Seperti semua dikotomi, yang dijelaskan di atas sedikit menyederhanakan. Bahkan dalam tugas yang ‘terbuka’ seperti menulis kreatif, siswa harus menguasai beberapa keterampilan dasar seperti tanda baca, penggunaan tata bahasa, penyusunan kronologis, rasa terhadap audiens, dan sebagainya. Jadi, meskipun produknya mungkin terbuka (apa yang ditulis siswa), proses mengarang dan menyalin memerlukan penguasaan keterampilan tertentu, dan dalam arti itu, tugas belajar menulis kreatif seperti tugas terbuka di atas menjadi tertutup. Penulis sukses yang menggunakan tata bahasa yang buruk melakukannya untuk efek, bukan karena dia belum menguasai keterampilan menulis. Di sini kita tertarik pada aspek ‘tertutup’ dalam pembelajaran. Kita tidak mengatakan bahwa pengalaman ‘terbuka’ tidak penting. Sebaliknya, semua pengalaman memiliki aspek terbuka dan tertutup, dan kita berkonsentrasi pada aspek tertutup sebagai sesuatu yang bisa dinilai berdasarkan kriteria kualitas. Selain itu, kita menunjukkan bahwa penilaian tersebut bisa digunakan secara formatif, sebagai bagian dari pengajaran itu sendiri.

(Bersambung)



Referensi
Biggs, John B.; Collis, Kevin F. (1982). Evaluating The Quality of Learning:SOLO Taxonomi (Structure of the Observed Learning Outcome) . Seri psikologi pendidikan. New York:  Academic Press . ISBN 0120975505OCLC

Fullan, M., Quinn, J., & McEachen, J. (2018). Deep learning: Engage the world change the world. Joint Publication Corwin and Ontario Principal Council. ISBN 9781506368580

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. (20250. Naskah Akademik Pembelajaran Mendalam: Menuju Pendidikan Bermutu. Pusat Kurikulum dan Pembelajaran, BSKAP Kemendikdasmen.

Kemdikdasmen. (2025, 13 Februari). Kuliah Umum: Pendekatan Pembelajaran Mendalam dalam Transformasi Pendidikan (Live – Kuliah Tamu Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed. – Menteri Pendidikan Dasar Dan Menengah) [Video]. YouTube.  https://youtu.be/EflpZj3zA1g?si=a_GvOHKzU-SFNZey

Kemendikdasmen Prioritas